6 Juli 2011, saya dan ketiga teman saya memutuskan untuk menyusuri jalan setapak yang gelap menuju tempat transit bagi kereta api yg berada di bandung timur sebagai langkah awal menuju puncak Bromo.
Saya bernama Arie dan ketiga teman saya Faisal,Viky,Radi merupakan seorang mahasiswa dari PTN di Jawa Barat. Meskipun kami berasal dari Kampus yang berbeda, namun kami berteman sudah cukup lama dan mempunyai tujuan dan hobby yang sama. Menjelajahi tempat-tempat luar biasa yang diciptakan oleh Tuhan merupakan keinginan kami, meskipun cara yang kami tempuh untuk menuju tempat tersebut merupakan cara yang jauh dari kata NYAMAN.
Setibanya di Stasiun Bandung tepatnya jam 10 malam, kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat karena kereta yang akan kami tumpangi akan tiba pada pagi harinya. Memang aneh karena kami menunggu kereta tersebut jauh dari waktu kedatangan. Yaa, itu ide Faisal agar kami tidak kehabisan tempat duduk. Dan Mesjid adalah satu-satunya tempat yang ada dalam fikiran kami untuk beristirahat dan untuk lebih dekat kepadaNya agar langkah awal kami lancar.
Pagi hari kami bergegas untuk mendapat tempat duduk dikereta and we got it, tempat yang cukup nyaman untuk perjalanan kami 12 jam kedepan. Selama perjalanan kami dikereta cukup membosankan dan karena 12 jam kami tidak mandi, saat turun dari kereta terlihat 4 orang gembel yang membawa tas besar dengan wajah dan rambut yang kusam. Meskipun begitu, kami semua tertawa karena berhasil melewati ujian kursi panas selama 12 jam. Dan ketika kami keluar dari stasiun, ada seorang pria paruh baya yang menawari kami tumpangan dengan price yang cukup murah untuk menuju terminal bus yang akan membawa kami ke probolinggo dan kami membayar Rp.10.000/orang.
Dan tiket menuju probolinggo seharga Rp.16.000/orang.
Setibanya di Probolinggo, kami sangat senang karena di situlah tempat pertama kami melihat gambar dan segala sesuatu yang berbau bromo. Dan lagi-lagi tempat transit kami untuk beristirahat sembari melaksanakan sembahyang subuh adalah di sebuah mesjid yang terletak cukup jauh dari terminal. Setelah sholat, kami sempat mengobrol dengan warga dan DKM mesjid tersebut tentang perjalanan dan tempat asal kami. Kami juga meminta izin untuk membersihkan diri kami di toilet mesjid tersebut.
"Hayu ah urang leumpang weh ka Bromo ti dieu mah", ada celotehan gila entah dari siapa yang mengatakan kita harus berjalan ke bromo. DAN kami memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum dengan harga Rp.20.000/orang daripada kami harus berjalan kami menuju Bromo yang bahkan dengan kendaraan dibutuhkan waktu 1 jam lebih untuk berada d puncak bromo. Satu hal yang membuat teman-teman saya terlihat begitu senang. Ada seorang wanita yang baru masuk dan begitu enaknya duduk di atas saya dan tidak mau pindah, tentu saja jika wanita tersebut cantik bukan masalah. Masalahnya ya wanita itu diam di atas saya sambil tersenyum aneh. Sialan anak-anak, hal kaya gini kan ga lucu tapi mereka hanya tersenyum tengil seperti orang bodoh.
Pada akhirnya, kami pun berhasil mencapai Bromo, dan......... Gila pemandangan yang subhanallah sangat luar biasa, pantas saja disebut kota di atas awan karena memang awan sangat dekat dari tempat itu dan bahkan berada dibawah pandangan kami. Tetapi kami belum puas hanya disitu, kami masih harus mencicipi tanah pananjakan dimana kita bisa melihat puncak bromo dengan begitu jelas dari kejauhan.
Hawa dingin yang luar biasa meskipun cahaya matahari terlihat terik, memang beda suasana di atas ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut. Perjalanan berlanjut dengan penyusuran area disekitar kami dengan berjalan kami sejauh yang kami bisa. Dan memang benar masyarakat lokal atau suku tengger merupakan suku asli yang mayoritas beragama Hindu dan mereka cukup ramah meskipun kami sedikit risau karena disekitar kami yang terlihat hanya tempat peribadatan agama Hindu.Ya, sekarang memang bukan waktunya merisaukan hal tersebut, kami masih harus mencari air dan makanan agar ada sesuatu yang bisa kami gunakan untuk mengganjal perut selama istirahat di penginapan.
Pada pukul 3 dini hari, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan dengan kondisi jalan yang gelap dan sangat dingin, dan memang hidung saya mulai sakit karena hawa dingin. Meskipun begitu perjalanan kami masih panjang dan kami harus bergegas menuju pananjakan untuk melihat matahari terbit apapun resikonya. Jarak yang jauh dengan waktu tempuh 2 jam dan kondisi gunung yang terjal dan ditumbuhi banyak tumbuhan yang menghambat kami tidak menyusutkan keinginan kami mencapai tujuan. Sebuah lampu senter dan keinginan yang kuatlah yang memberikan semangat kepada kami untuk terus berjaalan kami dengan segala rasa lelah dalam kegelapan.
Dan pada akhirnya kami sangat menikmati apa yang dimaksud dengan puncak bromo dan cerita mengenai kota di atas awan